Lewati ke konten
Artikel
A person meditating in the tranquil setting of Sendayan Mosque, Malaysia.
Foto: Mohammed Alim / Pexels
Artikel

Guru Ngaji di Pelosok Negeri: Pejuang Al-Qur’an yang Sering Terlupa

Di banyak sudut pelosok negeri, ada sosok yang hadir tanpa sorotan. Namanya jarang disebut di panggung besar, dan wajahnya tidak pernah muncul di layar ponsel. Ia adalah guru ngaji.

Ia mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an kepada anak-anak yang mungkin harus menempuh jalan berbatu atau menyeberangi sungai untuk sampai ke tempat belajar. Kehadirannya sederhana, tetapi jejaknya panjang.

Artikel ini akan mengajak kita melihat lebih dekat siapa guru ngaji di pelosok negeri, mengapa mereka sering terlupa, dan bagaimana kita bisa ikut menjaga perjuangan mereka.

Sosok Sederhana dengan Peran yang Tidak Sederhana

Guru ngaji adalah orang yang mengajarkan bacaan Al-Qur’an, mulai dari mengenal huruf hijaiyah, mengeja, hingga membaca dengan tartil. Lebih dari itu, ia juga menanamkan adab, akhlak, dan kecintaan kepada Al-Qur’an.

Di pelosok negeri, perannya sering jauh lebih luas. Ia bisa menjadi tempat bertanya, penenang, sekaligus teladan bagi anak-anak dan keluarga di sekitarnya.

Beberapa peran yang biasa diemban guru ngaji:

  • Mengajarkan bacaan Al-Qur’an dari dasar hingga lancar.
  • Membimbing hafalan surat pendek dan doa harian.
  • Menanamkan akhlak, sopan santun, dan kedisiplinan beribadah.
  • Menjadi pendamping tumbuh kembang anak di luar jam sekolah.
  • Menjaga tradisi keagamaan tetap hidup di tengah masyarakat.

Semua itu dikerjakan dengan kesabaran yang tidak selalu terlihat. Sering kali tanpa ruang kelas yang memadai, tanpa jadwal yang rapi, dan tanpa imbalan yang sepadan.

Bukan Sekadar Mengajar, tetapi Merawat Harapan

Bagi banyak keluarga, guru ngaji adalah penjaga harapan. Ia memastikan anak-anak tetap mengenal Al-Qur’an meski akses pendidikan agama tidak selalu mudah dijangkau.

Ketika seorang anak akhirnya bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar, kebahagiaan itu bukan hanya milik anak dan orang tuanya. Guru ngaji juga merasakannya, sering kali dengan mata yang berkaca-kaca.

Momen seperti itulah yang membuat mereka bertahan. Bukan karena upah, melainkan karena melihat ada generasi yang tumbuh dekat dengan kitab suci.

Mengapa Guru Ngaji di Pelosok Sering Terlupa

Ada banyak alasan mengapa perjuangan guru ngaji di pelosok jarang menjadi perhatian. Sebagian karena jarak, sebagian karena cara kita memandang pekerjaan mereka.

<p

Bagikan

Artikel terkait

Bantu program kebaikan hari ini

Donasi Sekarang